Berita

Jamur Dan Target Olah Sampah 4,5 ton Sampah Organi

Rumah jamur berkapasitas 3000 baglog jamur milik SMPN 4 Surabaya menjadi lumbung keuntungan bagi Puring Spenfora Company, perusahaan siswa sekolah ini dalam Ecopreneur 2017 yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya serta didukung Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya ini. Dengan total jamur yang terisi sebanyak 1500 baglog, Soepriatin Poerwatiningtyas, guru pembina lingkungan mengajak anak-anak memanen jamur yang ada di rumah jamur, Kamis (6/4). Kegiatan tersebut mewarnai pembinaan dan pemantauan perkembangan Ecopreneur di sekolahnya. Menurut guru pembina yang juga pengajar mata pelajaran IPA ini, pelaksanaan Ecopreneur 2017 sangat tepat dengan saat waktu panen jamur tiba, hal ini mendatangkan keuntungan yang melimpah. Kalau sudah panen seperti ini, kami bisa setiap hari memanen jamurnya. Karena kami langsung jual hasil panen jamur kepada guru-guru di kantor, ujar Tyas, sapaan akrabnya. Pelanggan tetap mereka adalah guru-guru yang setiap pesan langsung sebanyak 5 kg. Tidak hanya dijual kepada guru-guru, beberapa siswa yang telah pesan atau istilah lainnya pre-order langsung diberikan pesanan jamurnya. Alfin Saputra, salah seorang anggota perusahaan siswa bagian produksi, mengatakan bahwa sebelum tiba waktu panen jamur, mereka sudah melakukan promosi dan sosialisasi ke kelas-kelas tentang produk ecopreneur mereka. Khusus produk jamur dan olahan jamur kami menerima pre-order, ujar Alfin, siswa kelas 7. Sementara itu, selesai melayani pembelian siswa yang terlebih dahulu pesan jamur, anggota Puring Spenfora bagian pengomposan melakukan kegiatan rutinitas mengisi tong komposter yang ada di Taman Buah di depan sekolah. Sampah organik ini didapatkan dari sisa sayuran yang ada di kantin dan warung-warung di depan sekolah. Kami mempunyai target panen kompos dari olahan sampah organik sebanyak 4,5 ton, jadi ya harus sering-sering mengisi komposternya, ujar Alfin. Rencananya, mereka tidak hanya melakukan pengolahan sampah organik dijadikan kompos padat, produk kompos lainnya, pupuk cair yang diberi nama PUCAFORA (pupuk cair Spenfora) sudah dimulai pengolahannya dengan memanfaatkan kulit buah-buahan yang didapatkan dari aksi grebek pasar. Minggu lalu, kami sudah melakukan grebek pasar biasanya pada hari Jumat pagi atau Sabtu saat libur kami memilih ke sekolah untuk grebek pasar dan membuat pupuk cair ini, imbunya. Ditambahkan oleh Mas Roro, guru pembina lingkungan lainnya, kendala yang dialami anak-anak kali ini berkaitan dengan pelaporan kegiatan. Menurutnya, anak-anak kesulitan melaporkan kegiatan lingkungan yang dilakukannya karena terkendala peraturan yang melarang siswa membawa HP saat di sekolah. “Karena larangan membawa HP, jadinya anak-anak kesulitan untuk upload laporannya ke Tunas Hijau, sedangkan yang selalu mendokumentasikannya guru. Lah, lemahnya kan kalau guru tidak bisa setiap saat upload karena tugasnya sudah banyak, anak-anak juga malu untuk meminta hasil fotonya ke guru terkait. Jadinya, saat mereka bawa HP saja baru minta ke gurunya kemudian langsung dikirim laporannya,terang Mas Roro